600 ribu bayi kemungkinan terlahir cacat bila masyarakat masih tolak imunisasi MR

Jakarta (ANTARA News) – Diperkirakan sekitar 500 ribu hingga 600 ribu bayi berpotensi terlahir cacat karena congenital rubella syndrom atau cacat akibat terinfeksi rubella saat dalam kandungan jika masyarakat masih banyak yang menolak imunisasi campak dan rubella (MR).

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono di Jakarta, Senin, mengatakan hingga saat ini cakupan imunisasi MR secara nasional di luar Pulau Jawa mencapai 62,7 persen.

Angka tersebut masih jauh di bawah angka yang ditargetkan yaitu 95 persen dengan jangka waktu hingga 31 Oktober 2018. Kampanye pelaksanaan imunisasi MR itu pun juga sudah ditambah satu bulan menjadi tiga bulan, yang sebelumnya ditargetkan selesai dalam waktu dua bulan.

Bila dilakukan penghitungan yang hanya berpaku pada angka, perkiraan 600 ribu bayi terlahir cacat dilihat dari jumlah ibu hamil per tahunnya.

Anung mengatakan saat ini Indonesia memiliki lima juta ibu hamil setiap tahun. Untuk kasus infeksi rubella yang hanya menyerang pada fase kehamilan awal seorang ibu hamil, berarti sepertiga dari 5 juta ibu hamil yang berpotensi terinfeksi, yakni sekitar 1,5 juta.

Dari 1,5 juta ibu hamil itu diperkirakan 60 persennya berada di Pulau Jawa, dan 40 persennya di luar Jawa. Untuk ibu hamil yang berada di Pulau Jawa sudah tidak perlu merasa khawatir karena cakupan imunisasi MR pada tahun lalu di Pulau Jawa mencapai target 95 persen lebih.

Sebanyak 40 persen dari 1,5 juta ibu hamil yang berada di luar Pulau Jawa inilah yang berpotensi tertular rubella saat hamil dan bisa menyerang janin sehingga mengakibatkan cacat bawaan sejak lahir. 

Hal itu disebabkan karena cakupan imunisasi yang tidak mencapai 95 persen secara nasional di luar Pulau Jawa, di mana tidak menciptakan kekebalan kelompok sehingga virus rubella masih bisa berkeliaran di masyarakat.

Anung mengatakan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan sudah berusaha semaksimal mungkin selama hampir tiga bulan untuk mengajak masyarakat mengimunisasi anaknya. Namun demikian, masih ada orang tua yang menolak mengimunisasi anaknya dikarenakan isu kehalalan vaksin MR yang digunakan.

“Semua harus sama-sama menjaga tanggung jawab. Kalau kamu saya sediain air minum sehat, tapi kamu milih air kotor kalau sakit jangan salahkan saya,” kata Anung menganalogikan masyarakat yang masih menolak imunisasi MR walaupun sudah disediakan oleh pemerintah. 

Anung meminta kepada seluruh masyarakat agar tidak egois dalam melihat persoalan ini. Karena untuk mencegah penyebaran virus rubella yang bisa menyebabkan bayi terlahir tuli, jantung bocor, dan katarak, harus dilakukan oleh semua masyarakat hingga cakupan imunisasi mencapai 95 persen.

Saat ini capaian 62,7 persen cakupan imunisasi di luar Pulau Jawa berbeda-beda di setiap daerah. Ada sejumlah daerah kabupaten-kota yang sudah mencapai 95 persen cakupan imunisasinya, namun ada pula yang masih sangat jauh di bawah target pada sejumlah daerah.

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2018